Ekspektasi dan realita cinta
Ekspektasi : Dengan cinta sudah cukup sebagai dasar berhubungan
Realita : Dalam memilih pasangan, banyak orang yang
mengedepankan perasaan cinta yang menggebu-gebu. Hal itu tidak salah, namun
saat ingin menjalin hubungan yang lebih serius misalnya pernikahan, sekadar
perasaan cinta yang menggebu saja tidak cukup. Layaknya tanaman, cinta pun
membutuhkan nutrisi untuk menjaganya tetap hidup. Kepercayaan, toleransi,
intimasi serta komitmen adalah nutrisi utama bagi perasaan cinta. Jika Anda
hanya merasakan cinta, tanpa diikuti oleh nutrisinya, maka dapat dipastikan,
perasaan itu tak akan bertahan lama.
Ekspektasi : Cinta tak perlu dipelajari
Realita: Cinta juga perlu dipelajari. Jika Anda
menganggap cinta saja sudah cukup, maka secara otomatis Anda dan pasangan tak
akan pernah belajar untukberkomunikasi dan menyelesaikan masalah. padahal,
sebesar apapun cinta Anda, kerikil dalam hubungan tak akan bisa dihindari.
Namun ketika badai dahsyat yang menguji cinta Anda bisa dilewati, maka ikatan
Anda dan pasangan makin kuat. Oleh karena itu, jangan jadikan perasaan cinta
Anda alasan untuk berhenti belajar dan mengenal pasangan lebih dalam.
Ekspektasi : Pasangan tak akan berubah sampai
kapanpun
Realita : Setiap orang akan mengalami perubahan seiring
berjalannya waktu. Dulu si dia sering menulis puisi bagi Anda, namun kini, SMS
romantis pun tak pernah ada. Anda tak bisa menahan perubahan tersebut. Yang
bisa Anda lakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada maka Anda
akan berbahagia. Lagipula, apakah cinta si dia hanya bisa dibuktikan lewat
puisi-puisinya saja?
Ekspektasi : Pasangan sempurna akan membuat Anda bahagia
Realita: Tak ada seorangpun yang sempurna. Seperti kata
pepatah, jangan menghabiskan waktu Anda untuk mencari orang yang sempurna. Tapi
carilah seseorang yang bisa menyempurnakan kehidupan Anda. Si dia mungkin tak
seganteng Brad Pitt, tak sekaya Donald Trump dan rambutnya tak setebal Sharuk
Khan. Tapi kesabarannya dapat membuat hati Anda tenang setiap saat. Itulah
pasangan yang ‘sempurna’.
Ekspektasi: Pernikahan adalah prestasi
Realita: Jangan pernah terganggu dengan status sahabat
yang sudah menikah. Menikah bukan prestasi. Memiliki suami bukan berarti Anda
memiliki kelebihan dari wanita lain. Ketimbang putus asa karena status single,
lebih baik buka pikiran Anda menjadi lebih positif. Aura dan emosi positif
justru akan membuat Anda semakin menarik. Dan jika saatnya tepat, seorang
‘pangeran’ akan datang dan meminang Anda.
Selamat berbahagia.